UJIAN SEMESTER III

“Media Pertunjukan”

KASMUN

739 511 8009

Peroduksi Media Informasi Publik

1. MMTC yang berlatar belakang Multi Media sudah tepat memasukan seni Pertunjukan Tradisional Indonesia sebagai salah satu materi ajar dilingkungan studi karena mahasiswa selain mendapatkan ilmu atau hal baru dapat juga mendalami ilmu tersebut serta dapat nguri-uri(jawa) atau mewarisi kebudayaan nenek moyang bangsa kita sendiri di tengah terjangan budaya asing yang begitu dahsat masuk ke bangsa kita. Budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya timur yang halus dan mengedepankan sopan santun yang akhirnya akan merusak akhlak dan budi pekerti generasi penerus bangsa.Setelah mengikuti perkuliahan seni Tradisional Indonesia saya yakin untuk menggali ilmu yang begitu luas tersebut tidak cukup hanya dengan waktu satu semester karena untuk materi saja saya anggap kurang belum di dalamnya praktik pertunjukan. Menurut saya alangkah baiknya MMTC memasukkan materi ini sampai dengan semester akhir. Yang perlu dilakukan untuk untuk menyempurnakan capaian ini adalah kedepannya diadakan praktik seni pertunjukan rakyat baik indoor ataupun outdoor. Dan agar lebih sempurna perlu diadakan riset tentang seni tradisional.

2. Persoaalan seni Tradisional

* Preservasi

* Regenerasi

* Desiminasi

* Transkontektualisasi

* Pengembangan identitas budaya lokal

a. Seni Pertunjukan yang dimiliki oleh masing-masing daerah yang saat ini seolah- olah terpinggirkan.

b. Apresiasi penikmat/pelaku seni terhadap Seni Pertunjukan sangat rendah.

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa pesatnya sistem komunikasi modern seperti surat kabar, radio dan televisi telah menggeser media Pertujukan di Indonesia. Fenomena yang dirasakan sekarang, bahwa masyarakat yang dulu sering menggunakan jasa kelompok seni Pertunjukan seperti wayang, calung, reog, longser, ludruk, ketoprak dan seni tradisional lainnya, sekarang masyarakat telah beralih pada bentuk kesenian lain (seni modern) sementara media televisi swasta nasional lebih banyak menayangkan acara dalam bentuk hiburan diluar seni pertunjukan Kondisi di atas tidak hanya sebatas berkurangnya animo masyarakat terhadap media seni pertunjukan tradisional indonesia tetapi mengancam pula terhadap hilangnya sejumlah seni Pertunjukan Tradisional. Di Jawa Barat berdasarkan hasil penelitian dari proyek penunjang peningkatan kebudayaan daerah Jawa Barat pada tahun 1980 tercatat ada 352 jenis kesenian yang pernah hidup dan berkembang (baca: sumedang cekas), jika dilihat dari semakin berkurangnya animo masyarakat maka sebagaian seni tardisional Jawa Barat diprediksi sudah punah.

Sekalipun banyak media massa modern bermunculan, media seni Pertunjukan Tradisional masih memegang peranan penting dalam penyebaran informasi publik pada saat sekarang, sebagaimana disampaikan Dr. Budya Pradipta “Bahwa media Pertunjukan bersifat strategis dilihat dari sistem informasi dan komunikasi. Dengan alasan karena media Pertunjukan meng-cover semua pengetahuan secara sinergis misalnya pengetahuan dan penghayatan karawitan yang disinergiskan dengan ilmu politik, pengetahuan, segala macam ilmu yang dibutuhkan manusia, juga kemampuan menyergap aspirasi masyarakat yang tumbuh dan berkembang saat ini.” (berita Depkominfo )

Selain itu peran media seni Pertunjukan dalam penyebaran informasi masih relevan dan memiliki kelebihan sebagai berikut:

Pertama,

Keberadaan media seni Pertunjukan yang berangkat dan digali dari akar budaya masyarakat itu sendiri merupakan bagian yang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat yang notabene sebagian besar penduduk Indonesia, khususnya Jawa Barat tinggal di pedesaan dan memiliki keterikatan dengan budaya dan nilai-nilai tradisional.

Kedua

Dalam menyampaikan pesan pada media seni Pertunjukan penuh dengan kesederhanaan dalam penggunaan bahasa (merakyat), lebih familier, komunikatif, mudah dimengerti oleh komunitas sasaran selain itu penyampaian kritik-kritik sosial yang dikemas dalam bentuk guyonan atau banyolan cenderung lebih menyentuh dan lebih dapat diterima ketimbang melalui media lain yang menonjolkan sikap emosional, atraktif dan konfrontatif.

Sebagai antisipasi masalah tersebut diatas hendaknya:

1. Sering diadakan event yang berhubungan dengan seni pertunjukan agar masyarakat lebih mencintai tradisi negeri sendiri daripada tradisi negara lain.

2. Menghidupkan kembali realitas kehidupan seni masyarakat Pertunjukan di Indonesia, media Pertunjukan tradisional yang berdasarkan kekayaan seni tradisional yang dimiliki oleh masing-masing daerah yang saat ini seolah-olah terpinggirkan. Sehingga dengan adanya forum ini, keberadaan seni Pertunjukan masyarakat diharapkan bisa tetap eksis ditengah desakan moderitas di era globalisasi saat ini.

3. Memberikan apresiasi yang tinggi terhadap pelaku maupun penikmat seni Pertunjukan

4. Membangun kantong-kantong budaya di lingkungan permukiman masyarakat

5. Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya memelihara kekayaan budaya tradisi melalui kantong-kantong budaya itu.

6. Membangun jejaring dengan berbagai pihak di luar masyarakat yang berbasis teknologi informasi yang menghasilkan informasi tentang budaya dan kemungkinan-kemungkinan pengembangannya (website, TIM, televisi, radio, rumah produksi, festival kesenian tradisional, penelitian dan penulisan buku);

7. Melakukan pemberdayaan masyarakat dengan mempertimbangkan potensi-potensi yang dimiliki (SDM, kondisi geografis) untuk peningkatan kualitas kehidupan melalui potensi kesenian, pariwisata;

8. Pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat, universitas, dan lembaga-lembaga donor sebagai fasilitator dan rekan sekerja dalam revitalisasi budaya Pertunjukan Tradisional.

3.

1. Seni Pertunjukan tradisional Betawi di Era Modernisasi

Perkembangan masyarakat Jakarta yang semakin bergaya hidup global secara langsung berdampak pada gaya hidup masyarakat Betawi yang notabene berada di wilayah metropolitan Jakarta. Banyak hal dari aspek kehidupan masyarakat Betawi tidak lagi dapat ditemukan saat ini, terutama dalam hal kesenian. Faktor utama hilangnya kesenian tradisonal Betawi adalah hadirnya kompetitor kesenian yang sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup masyarakat modern. Kesenian yang berfungsi tidak saja sebagai hiburan tetapi di dalamnya terkandung berbagai kegunaan (dulce et utile) adalah representasi dari ekspresi budaya masyarakat itu sendiri. Norma dan nilai kehidupan disampaikan dan mendapat salurannya melalui kesenian. Artinya, kesenian akan hidup dan berkembang manakala masyarakatnya memelihara, mengembangkan, melakukan secara aktif, dan mengapresiasi. Dalam konteks itulah, secara kritis perlu dilihat bagaimana kesenian tradisional Betawi pada era globalisasi ini.

Pemodernan terhadap kesenian tradisional bukan suatu usaha yang haram, justru dengan pemodernan itu terkandung suatu upaya mengembangkan kesenian itu sejalan dengan pola pikir dan kebutuhan masyarakat Betawi yang semakin modern. Kompetisi kesenian tradisional dengan kesenian modern yang datang kemudian sangat perlu karena salah satu ciri dari masyarakat modern adalah bergerak dalam kompetisi menciptakan inovasi-inovasi yang berorientasi pasar. Natur kesenian tradisional memang bukan berorientasi pasar, tetapi ketika masyarakat dan lingkungan perkotaan menuntut pasar, maka kreativitas seniman tradisional harus pula mempertimbangkannya. Produk-produk budaya modern (budaya popular) dikemas sedemikian rupa sehingga masyarakat berada dalam situasi “demam” secara terus-menerus. Pengemasan produk kesenian yang disesuaikan dengan target pasar menjadi andalan, sehingga semua kelas masyarakat dapat menikmati dan mengapresiasi produk-produk kesenian itu. Selera pasar terbentuk sejalan dengan tawaran produk budaya populer yang dikemas, tidak saja dengan teknologi tinggi tetapi juga dengan variasi yang tinggi.

Di sisi lain, kesenian tradisional Betawi, seperti lenong, topeng betawi, tanjidor, cokek, dan gambang kromong sedikit demi sedikit terlupakan dan tidak dilihat lagi sebagai media hiburan. Kesan bahwa kesenian tradisional semakin ditinggalkan terlihat dari frekuensi kemunculanya jika ditinjau dari aspek kuantitatif. Dari aspek kualitas, kesenian-kesenian tersebut dapat dikatakan tidak mengalami perubahan berarti. Hal itu, boleh jadi sebagai sebuah upaya pemeliharaan terhadap kekayaan budaya tradisi. Kontroversi antara konvensi dan inovasi dalam kesenian tradisional sampai sekarang pun senantiasa terus dibicarakan dan memang tidak akan pernah selesai; dan memang bukan untuk diselesaikan. Kreativitas berkesenian akan selalu berada dalam ketegangan antara konvensi dan inovasi. Di situlah denyut nadi dinamika kesenian.

Situasi yang dihadapi kesenian tradisional Betawi itu terutama dipandang oleh masyarakat Jakarta secara umum. Secara khusus, masyarakat Betawi pun sudah mengalihkan perhatiannya ke produk-produk kesenian modern yang relatif mudah diakses. Jika demikian adanya, maka siapa yang mengapresiasi kesenian-kesenian itu? Bagaimana para seniman tradisional Betawi berkreativitas? Dua pertanyaan mendasar ini merupakan sebuah persoalan bagi kita semua.

Pembinaan Kesenian Tradisional: Revitalisasi Budaya

Pemerintah DKI Jakarta sudah tentu sangat berkepentingan dengan keberadaan kesenian traidional Betawi. Dalam hal ini, melalui berbagai cara telah ditempuh usaha-usaha mempertahankan dan memelihara kesenian itu. SM Ardan, misalnya, telah mempelopori masuknya kesenian Lenong untuk berpentas secara rutin di Taman Ismail Marzuki pada tahun 1970-an, anjungan DKI Jakarta di Taman Mini Indonesia Indah memfasilitasi pertunjukan kesenian tradisional Betawi sejak didirikan hingga kini, Kampung Betawi di kawasan Srengseng Sawah dijadikan semacam laboratorium budaya Betawi. Di kalangan non-pemerintah kita mengenal Lembaga Kebudayaan Betawi yang secara substansial bertugas melakukan kajian-kajian dan apresiasi terhadap berbagai khazanah budaya Betawi. Kini, penerbit Komunitas Bambu secara terencana menerbitkan buku-buku tentang berbagai aspek kehidupan masyarakat Betawi dan Jakarta berdasarkan riset para peneliti yang mempunyai perhatian terhadap Betawi. Semua pihak itu telah menunjukkan perhatian dan apesiasinya terhadap masyarakat dan budaya Betawi. Akan tetapi, di sisi lain kehidupan para seniman tradisional Betawi masih kurang diperhatikan dengan baik dan tidak adanya upaya pemaksimalan kreativitasnya secara terprogram dan terpadu.

Pembinaan terhadap kehidupan berkesenian dapat berbanding lurus dengan pembinaan terhadap kehidupan ekonomi keluarga. Di sinilah persoalan utama muncul. Kesenian tidak dijadikan sebagai mata pencarian. Berkesenian adalah sebuah pilihan temporal dalam kehidupan sehari-hari para seniman itu. Dengan demikian, komunitas seni tradisional Betawi lambat laun terjerembab ke jurang yang dalam oleh dominasi kelompok-kelompok kesenian populer yang lebih progresif. Oleh karena itu, satu hal yang perlu dilakukan adalah membangun kantong-kantong budaya yang dapat mengaktifkan kembali kehidupan berkesenian secara khusus dan kebudayaan Betawi secara umum. Diperlukan wadah yang secara kontinyu mampu memberi pemahaman kepada semua pihak (pemerintah, masyarakat Betawi, seniman Betawi, para maecenas) pentingnya membangun kembali budaya Betawi yang saat ini semakin tercerai berai secara geografis maupun substantif. Konsep Kampung Budaya Betawi di Srengseng Sawah adalah contoh yang tepat dan perlu dikembangkan di berbagai lokasi permukiman masyarakat Betawi di seantero Jakarta. Dalam hal ini, pemberdayaan masyarakat Betawilah yang menjadi prioritas, karena kesenian justru akan hidup di tengah-tengah lingkungan budaya itu sendiri. Kreativitas dalam berkesenian dengan sendirinya akan terbangun dan bersinergi dengan situasi zaman. Pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat sekadar fasilitator dalam program revitalisasi budaya Betawi.

Pekerjaan yang besar ada di depan kita, yaitu merevitalisasi budaya Betawi melalui pemberdayaan masyarakat Betawi sebagai pelaku budaya. Pembelajaran terhadap situasi zaman oleh masyarakat Betawi perlu dijadikan sebagai sebuah kesadaran untuk menguatkan identitas budaya mereka di tengah-tengah budaya metropolitan. Ruang-ruang publik yang metropolis berpotensi mencairkan identitas budaya mereka. Ruang-ruang publik itu tidak harus dipandang negatif, tetapi sebaliknya harus dipandang sebagai stimulus untuk membangun strategi budaya mereka sendiri di tengah dunia yang semakin mengglobal yang ditunjang kecanggihan perangkat teknologi informasi.

Sudah saatnya sekarang ini masyarakat dan para intlektual Betawi untuk bersama-sama dengan pemerintah, LSM, dan universitas membangun kemungkinan-kemungkinan baru dan kreatif merevitalisasi budaya Betawi. Hasil revitalisasi itu—dalam bentuk produk kesenian—dapat dikemas sebagai produk budaya yang mampu mengisi rumpang-rumpang kreativitas kesenian tradisional di era global ini. Dalam bentuk identitas budaya, masyarakat Betawi memiliki posisi tawar dalam dinamika masyarakat perkotaan yang modern, terutama dalam hal pariwisata. Konsep kampung budaya Betawi dengan segala aspek budayanya dalam sebuah paket budaya dapat dijadikan daerah tujuan wisata untuk turis domestik maupun internasional. Dalam hal ini, tanggung jawab pemerintah daerah untuk menyediakan akses sarana dan prasaran transportasi (jalan dan kendaraan umum), kewajiban pengelola kampung budaya adalah menyediakan program budaya dalam bentuk pameran, pertunjukan, informasi tentang budaya, dan kegiatan-kegiatan rutin, seperti kursus seni (menari, teater, musik) yang dapat dijadikan wahana pembelajaran dan penerusan warisan budaya dari satu generasi ke berikutnya. Hanya dengan upaya itu, seniman-seniman tradisional Betawi dalam bidang seni pertunjukan (lenong, topeng betawi), musik (tanjidor, gambang kromong), tari (cokek), sastra (pantun, sahibul hikayat) mendapat tempat untuk mengembangkan diri dan kreativitas berkeseniannya.

Seni Pertunjukan Tradisional Betawi

Akan halnya dengan teater tradisional Betawi—seni pertunjukan—yang mungkin lebih dikenal masyarakat secara umum, sekarang ini nampaknya semakin terkubur oleh arus zaman. Pendekar-pendekar kesenian lenong dan topeng Betawi, seperti Haji Bokir, Nasir, Mpok Siti, dan para pemain lenong “Setia Warga” lainnya yang hampir seluruh hidupnya mengabdikan diri pada kesenian itu, nampaknya tidak diikuti oleh generasi berikutnya. Bahkan, Mandra yang dibesarkan oleh kesenian tradisional itu, kini meloncat ke ekspresi seni modern (film, sinetron, dan musik). Demikian pula setelah kepergian Sumantri Sastrosuwondo dan SM Ardan, misalnya, lenong seolah kehilangan induk semang. Taman Ismail Marzuki dan TVRI yang dahulu secara rutin menayangkan kesenian tradisional Betawi itu, kini tidak lagi rutin. TVRI Stasiun Jakarta yang seharusnya menjadi bagian tak terpisahkan dalam hal promosi budaya Betawi—sebagaimana TVRI stasiun lokal (daerah) lainnya—dirasakan kurang menaruh perhatian pada kebudayaan Betawi.

Secara struktural kesenian lenong (denes dan preman) memiliki kekhasan dalam pertunjukannya. Lenong preman mungkin dapat dikatakan lebih terpelihara untuk beberapa saat dibandingkan dengan lenong denes. “Kepunahan” lenong denes tidak saja disebabkan oleh lunturnya ingatan tentang cerita-cerita hikayat yang menjadi sumber cerita, tetapi juga penguasaan bahasa Melayu Tinggi dari para pemain yang semakin asing. Dibandingkan dengan lenong preman yang lebih seru ceritanya, bahasa yang lebih ekspresif karena menggunakan bahasa percakapan sehari-hari. Dari segi panggung, lenong menuntut panggung procenium. Lain halnya dengan topeng betawi. Teater tradisional ini lebih menarik karena unsur humor, musik, dan tarian yang dikemas dengan unsur cerita (drama), dan tidak memerlukan panggung procenium, tetapi arena yang dikelilingi oleh penonton. Namun semua itu, kini sangat sulit kita lihat dan apresiasi. Kita sedang kehilangan sebuah kekayaan budaya karena komunitas masyarakatnya sedang melaju dalam era globalisasi, yang merasa tidak lagi perlu membawa warisan leluhurnya.

Sebuah gagasan dari Rendra dalam prosest berkeseniannya yang senantiasa mempertimbangkan tradisi (Jawa) telah menciptakan sebuah bentuk kesenian hibrid, yaitu ia memanfaatkan bentuk kesenian ketoprak dengan isi yang modern dan berbahasa Indonesia. Di pihak lain, Timbul mengemas ketoprak sepenuhnya menjadi pertunjukan humor dengan bahasa Indonesia dalam “Ketoprak Humor” yang sudah terbukti diminati pemirsa televisi secara nasional. Dalam hal bahasa, kesenian tradisional tentu sangat erat kaitannya dengan bahasa daerah, sehingga sangat terbatas pada lingkungan budaya asal kesenian itu. Penggunaan bahasa Indonesia untuk pertunjukan kesenian tradisional, seperti ludruk, ketoprak, wayang orang, randai, atau arja akan merusak emosi pemain dan penonton. Namun demikian, pada kesenian-kesenian yang menggunakan dialek Melayu, seperti Lenong (Melayu Betawi), Mamanda (Melayu Banjar), Mak Yong (Melayu Riau) ketika diubah ke bahasa Indonesia relatif tidak akan terasa perbedaannya.

Saya percaya bahwa komunitas kesenian tradisional Betawi (lenong dan topeng betawi) saat ini masih ada. Akan tetapi, masih adakah orang Betawi yang mau menanggap mereka di tengah sejumlah pilihan hiburan modern yang lebih menarik. Dalam era globalisasi sekarang ini, sinergi antara seniman, masyarakat Betawi dengan jejaring yang berbasis teknologi informasi, pemodal, dan masyarakat luas sebagai target sudah seharusnya dibangun dan menghasilkan produk-produk kesenian yang kreatif dan mampu merevitalisasi budaya Betawi tanpa harus kehilangan jati diri sebagai etnik yang mengisi mosaik budaya Indonesia.

Langkah Strategis

Sejumlah langkah strategis dapat dilakukan oleh komponen masyarakat Betawi maupun para pemerhati budaya Betawi untuk merevitalisasi budaya Betawi, antara lain:

membangun kantong-kantong budaya Betawi di lingkungan permukiman masyarakat Betawi;

menumbuhkan kesadaran pentingnya memelihara kekayaan budaya tradisi melalui kantong-kantong budaya itu;

membangun jejaring dengan berbagai pihak di luar masyarakat Betawi yang berbasis teknologi informasi yang menghasilkan informasi tentang budaya Betawi dan kemungkinan-kemungkinan pengembangannya (website, TIM, televisi, radio, rumah produksi, festival kesenian tradisional, penelitian dan penulisan buku);

melakukan pemberdayaan masyarakat dengan mempertimbangkan potensi-potensi yang dimiliki (SDM, kondisi geografis) untuk peningkatan kualitas kehidupan melalui potensi kesenian, pariwisata;

pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat, universitas, dan lembaga-lembaga donor sebagai fasilitator dan rekan sekerja dalam revitalisasi budaya Betawi.

Indikator pencapaian langkah strategis itu adalah terbangunnya kantong-kantong budaya yang dikelola oleh masyarakat Betawi berdasarkan kesadaran pentingnya membangun jati diri secara potensial, terjalinnya jaringan kerja dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas kesenian dan pariwisata, dan lahirnya program-program nyata bersama fasilitator.

M. Yoesoef;Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

2. Pentingnya Media Tradisional

SEBAGAIMANA kita ketahui bersama, bahwa pesatnya sistem komunikasi modern seperti surat kabar, radio dan televisi telah menggeser media Pertujukan Tradisional Indonesia. Fenomena yang dirasakan sekarang, bahwa masyarakat yang dulu sering menggunakan jasa kelompok seni Pertunjukan tradisional seperti wayang, calung, reog, longser, ludruk, ketoprak dan seni tradisional lainnya, sekarang masyarakat telah beralih pada bentuk kesenian lain (seni modern) sementara media televisi swasta nasional lebih banyak menayangkan acara dalam bentuk hiburan diluar seni pertunjukan tardisional.

(lagi…)

RENCANA PROGRAM MEDIA UNTUK SOSIALISASI

Mendidik, menghibur dan menarik.

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.